Faktor Risiko, Cara Mengobati Diseksi Aorta, dan Upaya Pencegahannya

Aorta merupakan pembuluh darah arteri besar yang berfungsi mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh. Apabila terjadi pendarahan di lapisan dalam aorta, maka darah bisa mengalir di sela-sela dinding pembuluh darah dan menyebabkan kerusakan aorta. Apabila terjadi terus menerus, maka akan timbul kerusakan yaitu diseksi aorta.

Kondisi ini sangat serius, sehingga sangat membutuhkan cara mengobati diseksi aorta yang tepat. Pengobatan secara medis harus segera dilakukan agar robeknya aorta bisa ditangani secepatnya, sehingga bisa sembuh dan berfungsi normal. Sangat penting pula bagi orang normal untuk mengetahui upaya pencegahannya agar tidak mengalami gangguan ini.

Faktor Risiko Diseksi Aorta

Kasus robeknya dinding dalam dan tengah aorta ini terjadi secara tiba-tiba dan baru menimbulkan gejala. Berbagai gejala yang ditimbulkan ini sangat mengganggu dan membahayakan kesehatan, di antaranya adalah sesak napas, tekanan darah naik, sakit di bagian bawah tulang dada sampai ke bahu, leher, lengan, dan bilah bahu atau punggung. Terdapat pula perbedaan tekanan darah di kedua lengan. Kebingungan dan gelisah juga menjadi gejala lainnya, bahkan penderitanya bisa sampai pingsan.

READ  Kenali Cedera Ligamen Lutut Anterior Di Bawah Ini

Dalam kondisi yang mengkhawatirkan tersebut, diharapkan cara mengobati diseksi aorta dilakukan dengan benar. Pasien juga harus mengetahui faktor risiko yang bisa memicu robeknya aorta ini demi meminimalisasi gejala dan bahkan bisa mencegah gangguan ini agar tak muncul lagi. Beberapa faktor risikonya adalah hipertensi, aterosklerosis, aneurisma, katup aorta yang cacat, penyempitan katup aorta, dan penyakit genetik, seperti sindrom Tuner, Marfan, penyakit pada hubungan jaringan, dan peradangan sel arteris besar serta sifilis.

Metode Pengobatan Diseksi Aorta

Setiap tindakan medis yang dilakukan untuk mengobati suatu gangguan pada tubuh, tentu saja disesuaikan dengan kondisi yang ada. Setiap pasien akan mendapatkan penanganan yang berbeda, termasuk pada kasus robeknya aorta. Cara mengobati diseksi aorta didasarkan pada lokasi robekannya.

READ  Gejala pada penderita cutaneous larva migrans

Dikutip dari hellosehat.com, terdapat dua tipe pengobatan yang dilakukan yaitu tipe A dan tipe B. Tipe A ini lebih berbahaya dibandingkan tipe B karena membutuhkan operasi secepatnya. Berbeda dengan tipe B yang lebih mudah ditangani dengan pemberian obat medis yaitu obat penghilang rasa sakit dan penurun tekanan darah.

Selain upaya pengobatan medis di atas, cara mengobati diseksi aorta di rumah sangat penting dilakukan untuk menekan risiko pemicunya. Penderita diseksi aorta harus mengontrol tekanan darahnya agar kondisinya bisa stabil dan tidak memperparah robeknya aorta. Penderita juga harus menjalankan diet rendah garam, berolahraga rutin, dan mengurangi berat badan. Merokok juga harus dihindari karena justru memperparah kondisi tubuh.

Pemeriksaan rutin ke dokter juga harus dilakukan setelah mendapatkan tindakan medis. Upaya ini sangat penting untuk memantau bagaimana perkembangan kondisi setelah penanganan apakah sudah berkembang dengan baik atau masih bermasalah. Dengan kontrol rutin, penderita bisa mendapatkan tindakan medis yang cepat jika masih bermasalah.

READ  Apakah Anda Sering Mengalami Pingsan? Hati-Hati itu Gejala ventrikel fibrilasi. Segera Konsultasikan ke Dokter

Upaya Pencegahan Diseksi Aorta

Selain menerapkan cara mengobati diseksi aorta, upaya pencegahannya juga perlu dipelajari. Hal ini sangat penting agar dapat mencegah terjadinya diseksi aorta lagi atau bagi yang belum mengalami tidak akan mengalaminya.

Beberapa upaya pencegahan robeknya aorta tersebut adalah berhenti merokok, mengontrol tekanan darah, menjaga berat badan agar tetap ideal, dan menggunakan sabuk pengaman saat berkendara. Menghindari stres dengan tindakan mengontrol stres yang baik juga perlu diterapkan. Berkonsultasi dengan dokter juga menjadi hal yang penting, terlebih jika mempunyai salah satu anggota keluarga yang punya riwayat diseksi aorta.

 

Sumber Artikel:

hellosehat.com

www.alodokter.com

 

Sumber Gambar:

hellosehat.com

www.sehatq.com